May 10, 2026
Untitled-11

Minggu, 19 Juli 2020 Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin kembali mengadakan kegiatan BISIK (Bincang Psikologis) dengan teman “Siapkah Beradaptasi dengan Pandemi?”. Narasumber kegiatan ini oleh Istiana Tadjuddin S.Psi., M.Psi., Psikolog melalui live Instagram.

Pada awal diskusi narasumber membahas mengenai bagaimana setiap masyarakat seyogyanya dapat melakukan adaptasi di tengah pandemi. Pandemi Covid-19 ini tidak pernah dialami dan dihadapi oleh berbagai generasi sehingga mengharuskan setiap masyarakat siap melakukan penyesuaian dan beradaptasi. Host juga memberikan beberapa pertanyaan yang telah dikumpulkan dari QnA instagram yaitu:

1. Generasi millennials ini sangat kental dengan situasi emosi yang cukup sulit di kontrol. Seperti apa saran Ibu kepada kami  dalam menghadapi situasi perubahan ini?

Setiap individu perlu melakukan adaptasi seperti melakukan aktivitas produktif, mengerakkan tubuh seaktif mungkin serta mengurangi pemikiran negatif dan menjaga kesehatan mental dengan melakukan relaksasi, menenangkan diri dan melakukan aktivitas yang dapat menyegarkan pikiran. Saat ini tentu banyak yang belum terbiasa dan benar-benar beradaptasi di situasi pandemi karena belum mampu keluar dari perilaku zona nyaman sebelum adanya pandemi ini. Sehingga diharapkan individu mampu menyesuaikan diri sesuai dengan dirinya

2. Bagaimana perspektif psikologi dalam memandang manusia yang seyogyanya bisa berdamai dengan keadaan new normal saat ini?

Individu seyogyanya mampu berdamai dengan situasi new normal karena hal ini berkaitan dengan kemampuan individu bertahan hidup. Pada proses adaptasi sangat dibutuhkan oleh setiap masyarakat meskipun di tengah perjalanannya mungkin saja akan mengalami kegagalan dan kemunduran namun hal tersebut perlu untuk selalu diapresiasi.

3. Bisa dikatakan bahwa pandemi saat ini merupakan salah satu bencana non-alam yang tentu akan berdampak banyak terhadap kehidupan manusia dalam berbagai aspek mulai dari ekonomi, sosial, politik, dll. Baru-baru saudara kita di Luwu Utara disaat bersamaan juga menghadapi bencana alam. Apakah beban psikologis saudara kita akan berbeda atau berdampak berkali-kali lipat dibandingkan kita mungkin yang menghadapi pandemi? Bagaimana pendapat Ibu terkait dengan proses coping yang dapat mereka lakukan?

Setiap lapisan masyarakat akan menghadapi dan memiliki cara coping strategy masing-masing namun hal yang terpenting adalah setiap individu mampu menjaga kesehatan dan kesadaran mental meskipun dihadapi oleh suatu bencana. Semakin individu tersebut mampu beradaptasi dengan segala hal yang terjadi dalam dirinya hal tersebut tentu menambah keterampilan baru pada setiap individu.

4. Seperti apa ciri-ciri orang yang sulit beradaptasi dengan pandemi? Apakah masyarakat yang masih menganggap bahwa Corona ini hanya hoax semata juga bisa dikatakan sebagai orang yang telah gagal beradaptasi?

Kita tidak dapat menyamaratakan bahwa seseorang dikatakan gagal dalam beradaptasi di tengah pandemi, bahkan yang masih menganggap bahwa Covid-19 ini tidak ada justru juga masih dalam proses adaptasi. Seseorang yang gagal bahkan bisa terjadi pada mereka yang mengetahui bahwa Covid-19 ini ada, namun bereaksi secara berlebihan. Ibu Isti juga menambahkan penjelasan terkait dengan pengalaman kliennya yang berusaha untuk menjaga lingkungan rumah secara berlebihan dan meminta keponakannya untuk meninggalkan rumah karena sering keluar dan masuk rumah. Jadi kegagalan itu tidak dapat distandarisasikan namun yang terpenting adalah bergantung dari persepsi masing-masing individu dalam menghadapi pandemi yang ada.