Psikologi Universitas Hasanuddin mengadakan Bincang Psikologi (BISIK) dengan mengangkat tema yang berkaitan dengan perilaku masyarakat ditengah pandemic covid-19. Kali ini yang menjadi sorotannya adalah perilaku abai masyarakat. Bincang Psikologi ini diadakan pada (Minggu, 21 Juni 2020) oleh Dr. Ichlas N. Afandi, S.Psi., MA. Beliau merupakan praktisi dan dosen psikologi sosial di psikologi unhas. Dengan menggunakan aplikasi daring google meet pada pukul 15.30 wita.
Bincang Psikologi ini hadir sebagai bentuk sarana diskusi terkait perilaku-perilaku masyarakat terkini. Melihat kondisi masyarakat yang masih cenderung abai dengan protocol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO dan Kemenkes membuat orang penasaran terkait motiv dari perilaku tersebut. Dengan demikian dikesempatan ini, bisik kemudian membahas perilaku abai tersebut.
Tak pelak, perilaku abai ini kemudian berimbas kepada semakin meningkatnya jumlah orang yang terkomfirmasi positif covid-19, khususnya di kota Makassar. “protocol kesehatan yang digunakan di masa new normal ini seperti menggunakan masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan” Ichlas menjelaskan. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa masyarakat kita cenderung abai dengan protok kesehatan ini.
Melihat fenomena seperti ini, ichlas kemudian menduga bahwa ada pola pemaknaan yang berbeda di tengah-tengah masyarakat. Perbedaan ini cara pandang ini membuat masyarakat kita terbagi dua yaitu (1) kelompok masyarakat yang memaknai COVID-19 sebagai ancaman sehingga lebih cenderung mematuhi protokol kesehatan, dan (2) kelompok masyarakat yang memaknai COVID-19 bukan sebagai ancaman sehingga lebih cenderung tidak mematuhi protokol kesehatan.
Dalam konteks ini lanjutnya, terdapat 7 tipe masyarakat dalam konteks pandemic covid-19 ini yaitu
- Health-based decision adalah masyarakat yang mempertimbangkan perspektif medis dalam menyikapi pandemi. Contoh tipe ini adalah petugas kesehatan.
- “What is Corona?” decision adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan minim terkait pandemi. Masyarakat dalam kelompok ini belum memperoleh edukasi dan sosialisasi yang memadai untuk menyikapi pandemi. Solusinya dapat berupa perluasan jangkauan edukasi.
- Economic-based decision adalah masyarakat yang mempertimbangkan aspek ekonomi dalam menyikapi pandemi. Contoh tipe ini adalah pekerja sektor informal. Tipe ini dapat diintervensi dengan cara pemenuhan kebutuhan ekonominya.
Tipe 1-3 di atas merupakan perluasan dari kelompok masyarakat yang diprediksi akan mematuhi protokol kesehatan. Selain dari ketiga tipe tersebut, berikut merupakan tipe-tipe yang tergolong sebagai masyarakat abai:
- Conspiracy-based decision adalah kelompok yang menganggap virus Corona sebagai produk konspirasi.
- “Corona is common disease”-based decision adalah kelompok yang menganggap COVID-19 sebagai flu biasa dan tidak berbahaya.
- “Corona is hoax”-based decision adalah kelompok yang menganggap virus Corona sejatinya tidak pernah ada.
- God’s Rules-based decision adalah kelompok yang menganggap pandemi ini merupakan pemberian dari Tuhan dan telah ditentukan.
Setelah pemaparan tersebut, sesi tanya-jawab pun berlangsung. Perbincangan tersebut menghasilkan beberapa poin tambahan, antara lain:
- Pentingnya peran pemerintah sebagai pemegang kebijakan publik dalam mengendalikan perilaku masyarakat di tengah pandemi dengan arahan yang konsisten dari tingkat pusat hingga tingkat daerah.
- Pentingnya kepercayaan (trust) publik terhadap pemerintah agar masyarakat secara sukarela mematuhi kebijakan publik yang telah ditentukan pemerintah.
- Komunikasi media terhadap publik turut menentukan kecenderungan masyarakat menjadi kelompok yang patuh atau yang abai.